 Foto: London School of Economics/Telegraph JAKARTA - Mahalnya biaya pendidikan tinggi di Eropa ditopang dengan kebijakan pinjaman bagi mahasiswa yang tidak mampu membayar biaya kuliah. Nantinya, setelah lulus dan mendapat pekerjaan, mereka harus membayar secara bertahap kembali pinjaman tersebut sesuai jumlah yang ditetapkan. Namun, terdapat sejumlah kampus di Eropa yang mahasiswanya independen secara finansial. Hal ini diukur berdasarkan persentase mahasiswa tahun pertama yang tidak menggunakan fasilitas 'bantuan keuangan' tersebut. Perlu diingat, 'bantuan keuangan' yang dimaksud pada daftar ini hanya mencakup kemandirian mahasiswa dalam pinjaman untuk biaya hidup, tidak termasuk pinjaman biaya kuliah. Serta, tidak memperhitungkan mahasiswa yang berasal dari Uni Eropa. Pasalnya, terdapat kebijakan untuk membebaskan mahasiswa asal Uni Eropa dari biaya kuliah. Baca tulisan ini lebih lanjut |
No comments:
Post a Comment